Senin, 14 September 2015

Waktu diterima di FKH UGM aku belum bisa naik sepeda. Lalu aku buru2 belajar naik sepeda di Jakarta. Eh  berhasil!  Jadi pada saat diplonco sepertinya aku sudah jago naik sepeda.

Saat plonco aku tidak punya sepatu trepes warna hitam. Jadi ibuku membelikan aku sepatu baru. (Ssstt..aku ditungguin ibu saat plonco, lo ). Saking takutnya ketahuan pakai sepatu baru, sepatu tsb aku siram air dan di gosok-gosok ke tanah... eehh malah jebol. Aku nangis, krn sudah malam banget tak mungkin benerin sepatu tsb. Apa boleh buat sepatu tsb batal aku pakai.

Aku berkebaya dan sepatu hak tebal dari kayu (paling kanan)...
Tahun kedua di FKH, aku paling gaya loh.. Aku pakai rok mini dengan sepatu hak tebal dari kayu. Teman-teman pada ngeledek, itu sepatu apa kayu untuk melempar maling.  Aku cuek saja, sepatu tsb tetap aku pakai  se-hari2 untuk kuliah. Ternyata sepatu model tsb baru ngetrend di Yogya satu tahun kemudian. Ceweq Jakarta gitu loh!


Aku juga mahasiswi pertama di FKH yang kuliah pakai celana panjang. Bahan denim warna jingga. Wkt praktikum biokimia, asistennya pak Bambang, aku dimarahin, tidak boleh ikut praktikum. Tapi aku bohong. Aku bilang tadi pagi dingin banget dan aku  alergi. Saat itu Yogya sedang musim dingin dan pilek memang langgananku. Pak Bambang kalah argumen dan aku bisa ikut praktikum. Sejak itu aku sering pakai celpan saat kuliah sehingga  teman-temanku cewek yang lain pada  ikutan.
Umi Purwanti, Woroharti, Suparti, Eryl, Aku (tdk bercelpan)

Aku juga pernah bermasalah dengan dosen. Ini gara-gara seorang asisten alm Prof Soebronto melaporkan ke beliau bahwa aku nyontek. Sebenarnya hampir satu kelas nyontek. Tetapi karena grupku (lima cewek, lihat foto) ketakutan maka kami pergi ke rumah pak Soebronto untuk meminta maaf. Tak lupa kami juga bawa oleh-oleh buat ibu Soebronto..hehe. Lalu pak Soebronto mengadakan ujian ulang. Saya ingat aku dan pak Chaidir duduk di depan, biar bisa buktikan kalau tidak nyontek. Puji Tuhan, ternyata nilai ujianku paling tinggi (?)
Sejak itu hubunganku dengan alm pak Soebronto sangat dekat dan ternyata beliau ingat terus kejadian itu. Sesudah aku kerja saat ketemu beliau sering cerita kejadian itu.
Drh Arsentina Panggabean

Generasi Penerus Dokter Hewan

Sewaktu saya masih menjadi PNS di Dinas PeternakanDKI Jkt saya sering ke lapangan baik itu ke peternakan sapi perah, peternakan kambing, RPH bahkan studi banding bersama masyarakat binaan kami ke luarkota. Kadang2 jika situasi memungkinkan saya mengajak anak-anak ke lokasi2 tab. Disamping bisa momong anak dan rekreasi gratis saya juga ingin memotivasi anak untuk menyayangi hewan. Ternyata anak saya yang no 2, Meryl Yemima Gerhanauli,  sangat tertarik denagn dunia hewan bahkan bercita-cita menjadi dokter hewan. Saya minta dia untuk jadi dokter umum tapa dia tetap ingin jadi dokter hewan. 

Ahirnya saya arahkan dia untuk kuliah di FKH  UGM,  kebetulan kakaknya juga kuliah di Psikologi UGM. Dengan penuh perçaya diri dia mengambil pilihan satu-satunya yaitu FKH. Dan diterima. Di kampus ia menjadi asistennya prof Bambang Sumiarto. Pembimbing skripsinya prof Kurniasih. Pada 2010, ia dilantik menjàdi dokter hewan seperti ibunya. Saat ini kami bersama-sama praktek di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Oh ya, sebelum kami berpraktek bersama, Meryl sempat bertualang di Borneo Orangutan Survival Nyaru Menteng Palangka Raya, Kalteng. Sebenarnya dengan berat hati dia tinggalkan anak-anak satwanya di Nyaru Menteng untuk bergabung dengan kami di klinik Gloriouz Pet.

Diceritakan oleh Drh Arsentina Panggabean, pensiunan PNS DKI Jakarta.

1 komentar: